seluler ads

Lodzboard – Dengan 64 persen dari total populasi yang terhubung ke internet pada tahun lalu, Indonesia kemungkinan akan menjadi negara dengan jumlah pengguna smartphone terbesar ketiga setelah Tiongkok dan Amerika yaitu 410 juta pada tahun 2025, menjadikannya pasar yang sangat besar untuk iklan mobile, menurut sebuah penelitian terbaru.

Iklan seluler di Indonesia diperkirakan telah tumbuh sebesar 34 persen pada tahun 2019. Tingkat tercepat di dunia, Asosiasi Pemasaran Seluler (MMA) Indonesia mengatakan dalam sebuah laporan.

Direktur program MMA Indonesia Asia-Pasifik Azalea “Zela” Aina mengatakan pada hari Rabu bahwa total nilai iklan mobile negara akan mencapai Rp. 98 triliun (US$ 7 miliar) tahun ini dan akan tumbuh sebesar 7,9 persen menjadi Rp. 105 triliun pada tahun 2020.

Karena semakin banyak orang mengubah perangkat utama mereka menjadi smartphone dari laptop dan tablet antara 2014 dan 2019, pemasar beralih ke iklan mobile, memacu pertumbuhan pasar iklan mobile, katanya.

Sebagai perbandingan, pengeluaran untuk iklan televisi pada tahun 2018 tumbuh sebesar 2 persen, jauh lebih rendah dari 18 persen untuk total pengeluaran iklan digital secara umum.

Sekitar 50 persen dari total pengeluaran untuk iklan digital pada tahun 2018 adalah untuk mesin pencari dan platfom media soscial, yaitu Google, YouTube, Facebook dan Instagram, menutu sebuah penelitian.

Pengguna platform media sosial untuk iklan seluler sejalan dengan tren tiga jam orang Indonesia menghabiskan setiap hari di media sosial, satu jam lebih banyak daripada waktu sehari-hari yang dihabiskan untuk menonton televisi, kata Zela.

Chief komersial officer Gojek, Antoine de Carbonnel, mengatakan, “10 tahun yang lalu, hampit semua perusahaan hanya menggunakan televisi dan cetak untuk iklan. Sekarang sebagian besar perusahaan menggunakan pemasaran digital.”

Dia mengatakan bahwa 19 persen dari total pengeluaran perusahaan untuk pemasaran adalah untuk iklan mobile.

Peneltian menunjukan bahwa iklan seluler memungkinkan pemasar untuk mengirimkan iklan mereka kepada audiens yang ditargetkan dengan baik dan konteks yang benar.

Maskapai Malaysia Air Asia, misalnya. Menggunakan layanan iklan bertarget dari agensi media Mindshare Indonesia untuk mengirimkan iklan berdasarkan pencarian tujuan orang terbaru, menurut sebuah penelitian.

Zela mengatakan kepada wartawan bahwa perusahaan mengumpulkan data konsumen mereka melalui aplikasi seluler dan menggunakan data tersebut untuk iklan bertarget.

“Jika data saya menunjukkan bahwa sata telah pergi ke Pulau Komodo, saya dapat melihat iklan dari perusahaan layanan pemesanan tiket dan hotel secara online di umpan media sosial saya,” tambahnya.

Nilai pasar iklan yang ditargetkan di negara itu diperkirakan akan tumbuh sebesar 89 persen hingga mencapai Rp. 7 triliun tahun ini, menjadikannya negara dengan pertumbuhan tercepast dalam hal iklan yang ditargetkan, diikuti oleh India, Brasil, dan beberapa negara Eropa.

Baca Juga : Bangkok Bank Mengakuisi Bank Permata Seharga 2,67 miliar dollar Amerika

Iklan seluler yang ditargetkan dengan baik mulai berkembang, sejalan dengan tren perilaku belanja konsumen pada aplikasi seluler selama pameran belanja online.

Dalam pameran belanja online 12 Desember Harbolnas, misalnya, 54 persen dari tital transaksi dilakukan melalui aplikasi seluler, menurut penelitian oleh perusahaan periklan online Criteo.

Namun, iklan seluler menghadapai tantangan karena belum memiliki dampak pemasarannya dalam hal pengembalian investasi, menurut De Carbonnel.

“Semakin penting untuk dapat mengukur ketika anda berpikir tentang pengembalian investasi pemasaran. Sangat sulit untuk benar-benar mengukur apa yang berasal dari papan iklan Anda, dari TV Anda dan pemasaran seluler anda,” katanya kepada The Jakarta Post, menambahkan bahwa MMA Indonesia akan fokus merumuskan pengukuran tahun depan.

Tantangan lain yang dihadapi pemasar periklanan mobile adalah prospek ekonomi yang suram.

Mayoritas pemasar secara umum, di antaranya 20 persen adalah orang Indonesia, misalnya, menganggap upaya pemasaran mereka dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang lambat hingga sedang di Asia Tenggara, menurut sebuah survei oleh agen pemasaran digital Analytic, Data, Advertising (ADA).

Dana Moneter Internarional (IMF) baru-baru ini menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk Asia menjadi 5 persen dari 5,4 persen pada 2019 dan menjadi 5,1 persen dari 5,4 persen pada tahun 2020.